All posts by admin

Warisan Islam di Kota Tua Bhopal, India

Kehidupan masih berputar di Bhopal, India dengan tingkat energi yang sama seperti yang terjadi berabad-abad lalu. Jalan-jalan yang padat di Kota Tua Bhopal memancarkan udara Islam pada abad pertengahan dengan gerbang kuno yang berhadapan dengan kumpulan bangunan antik dan monumen.

Dilansir The New Indian Express, wilayah ini adalah pusat dinasti Muslim yang dipimpin oleh jenderal Afghanistan, Dost Mohammed Khan. Permata dari pemerintahannya yang berumur 200 tahun itu adalah empat penguasa wanita di tanah itu. Mereka dikenal sebagai Begums of Bhopal.

Selama mereka menjabat, yaitu dari 1817 hingga 1926, mereka membentuk Bhopal menjadi salah satu kota terindah di India. Kota ini pun mengundang pujian dari kaisar Mughal di Delhi.

Para ratu tidak hanya membentuk lanskap danau kota dengan istana, rumah bangsawan, masjid, pasar, dan monumen yang menarik perhatian. Tetapi juga memberikan penyelesaian fasilitas umum yang penting seperti pengairan, kereta api, sistem pos dan kotamadya. Sebagian besar arsitektur tersebut masih ada untuk menunjukkan sentuhan agung dan campuran gaya arsitektur yang luar biasa. Bangunan-bangunannya bertahan dari panas dan debu di Central India.

Chowk adalah jantung dari Kota Tua Bhopal. Bangunannya dengan puncak yang menjulang, siluet cembung dari kubahnya dan dinding pertahanan yang besar. Jalan raya dipenuhi dengan toko-toko dan rumah-rumah tua, dipenuhi oleh orang-orang yang berkendara. Seorang muazin mengumandangkan adzan dari masjid terdekat di kota itu.

Masjid adalah permata Bhopal. Taj-ul-Masajid — dikatakan sebagai tempat ibadah Islam terbesar di India — menempati urutan teratas. Pengaturan kolosal dengan dinding merah muda yang mewah, kubah putih dan menara-menara yang menjulang tinggi memesona. Penguasa perempuan ketiga Bhopal Shah Jehan Begum menugaskan pembangunan masjid tersebut pada akhir abad ke-19. Tetapi konstruksinya dihentikan setelah kematiannya. Pekerjaan itu pun dilanjutkan pada akhir abad ke-20.

Dua masjid lain yang menarik perhatian adalah Masjid Jama, yang terkenal karena kubahnya yang berlapis emas. Juga Masjid Moti, yang secara arsitektur menyerupai Masjid Jama di Delhi. Begums telah meninggalkan jejak arsitektur yang indah di belakangnya.

Terdapat pula masjid yang dianggap sebagai masjid terkecil di dunia. Masjid itu berdiri di atas menara batu yang telah hancur. Duly, masjid itu merupakan bagian dari benteng tua, yang sekarang menjadi rumah sakit modern.

Legenda mengatakan masjid dibangun oleh penguasa awal rezim Khan untuk penjaga benteng. Di situ dia beribadah di saat jam kerja. Untuk masuk ke dalam masjid membutuhkan dua langkah besar dan satu langkah yang relatif lebih kecil. Itulah sebabnya masjid ini secara lokal dikenal sebagai ‘Masjid Dua dan Setengah Langkah’. Warisan Islam di sini memiliki tempat baik untuk kesalehan dan kesenangan.



Ketika Dunia Terlupa Pembantaian Muslim Bosnia

‘’Mereka itu Nazi. Dia datang menembaki semua orang.’’ Fatma, perempuan setengah baya yang menjaga gerai di sebuah hotel di Sarajevo terlihat tercekat ketika menceritakan soal perang saudara yang pernah berkecamuk di negerinya. Dia berbicara lirih dan dingin seperti suara gesekan udara di akhir musim semi di ibu koa Bosnia.

’Are you Muslim,’ tanyanya. Saya pun menangguk. Perempuan dengan dua orang cucu  tersenyum manis. Dia bertanya lagi dari mana asal saya: Are you Malaysia? tukasnya. Begitu saya menyebut Indonesia, dia segera menyahut. “Ya, di sini ada Masjid Indonesia. Masjid Soeharto. Di pusat kota,’’ tukas Fatma lagi.Seperti warga Muslim Bosnia lainnya, memang masjid Indonesia yang dibangun Presiden Soeharto melekat di mata dan hati orang mereka.

Benar, tempat ibadah umat Islam yang di dalamnya terdapat  mimbar berukir sumbangan BJ Habibie, di pusat kota Sarajevo masjid karya aritek asal Bandung, Ahmad Nuqman, itu tampak  berdiri megah. Di sebelahnya ada lapangan sepakbola. Tak jauh dari masjid ada jalur trem yang membelah kota yang di dekatnya ada trotoar yang sangat enak untuk berjalan kaki. Masjid itu berada dicekungan bukit. Letaknya sebenarnya yak begitu jauh dari lapangan terbang Sarajevo. Para jejaka dan gadis berdandan modis lalu lalang di situ.

Kata warga setempat, dahulu semasa perang perbukitan di sekeliling masjid itu sangat berbahaya. Di sana bertebaran sniper dan senjata berat dari Serbia. Siapa pun yang berani masuk ke arah lapangan terbang yang searah dengan lokasi masjid tak ada yang bisa selamat. Sisa-sisa bekas perang di beberapa gedung pun masih terlihat. Meski begitu Sarajevo tetap kota yang cantik. Ciri sebuah kota megah yang pernah menjadi pusat Olimpida Musim dingin pada tahun 1982, masih terasa adanya.

Ya memang kota ini memang sekarang tentram. Tapi nun 23 tahun silam, tempat ini malah menjadi ajang konflik akibat runtuhnya Yugoslavia menjadi tujuh negara. Bekas kekuasan diktator Joseph Broz Tito hancur berkeping-keping. Celakanya tak hanya konflik, tapi perpecahan ini malah kemudian memantik perang dan pembantaian massal. Sisa konflik itu berbekas pada bekas taman di tengah kota yang menjadi tempat pekuburan masal. Taman bunga melati dan mawar sesuai perang berubah menjadi pemakaman massal. Lokasi memanjang serta meninggi ke arah sebuah bukit.

‘’Saudara saya banyak yang mati menjadi korban. Entah apa tiba-tiba Serbia datang menyerbu dan membantai seperti Nazi,’’ Fatma berulangkai mengulang kata ‘Nazi’. Tampak ada kepilaun yang mendalam di wajahnya ketika menyebut kata itu. Dan memang dari sejarahnya wilayah Bosnia atau Balkan banyak bersinggungan dengan ekspansi Hitler semasa perang dunia II.

‘’Mereka bantai kami karena Muslim,’’ ujarnya lagi. Bukan hanya itu, lanjut Fatma, tak cukup membunuh mereka juga memperkosa. Dan hasilnya setelah itu banyak perempuan Bosnia yang pikirannya terganggu dan mendapat anak hasil tindakan perkosaan.’’Mereka ingin menghilangkan darah dan keturunan asli orang Bosnia,’’ ujarnya lagi. Setelah berkata seperti itu dengan terbata Fatma membaca Alfatihah yang ternyata masih bisa diingatnya. Sesaat dia kemudian berhasil menguasai emosinya yang sempat bergejolak hebat.

Memang bekas pembantaian kini tak begitu terlihat di Sarajevo. Namun ketika pergi menuju sebuah kota kecil yang berada di sebelah timur, Srebenica, nuansa horor pembantaian dapat segera terlihat. Begitu masuk kota Srebrenica, sebuah pekuburan masal segera terlihat. Letaknya persis di pinggir jalan besar. Dalam pemakaman masal tercantum nama para korban. Semua Muslim dan ini bisa terlihat dari namanya yang memakai nama Islam meski dalam ejaan Bosnia yang agak mirip dengan bahasa Turki.

‘’Sampai kini sisa konflik masih tersisa. Orang Serbia yang melintas di dekat pemakaman masal itu kerap memancing keributan dengan membunyikan klakson mobil keras-keras. Akibatnya, warga Srebrenica banyak yang kesal dan membalas dengan melempari mobil itu,’’ kata seorang warga Bosnia yang menjadi mengelola sebuah restoran ala Turki di sebuah pinggir jalan sebelum masuk ke Srebrecina.

Tak hanya itu, dendam kesumat antara warga Serbia dan Bosnia bahkan sempat terjadi langsung di sebuah plaza. Entah mengapa tiba-tiba ada dua kelompok orang ribut sambil memakai. Tak jelas apa yang mereka pertengkarkan karena memakai bahasa lokal. Namun dari cerita orang-orang ada disekitarnya yang ikut menjaga toko, menyebutnya sebagai perterungan ‘Derbi’ (pertarungan orang sekota). Kedua kelompok itu bertengkar kata saling mengejek dan menantang. Yang satu menuduh orang Bosnia pengecut, yang satu menyebut orang Serbia penjajah dan pembantai. Perang kata-kata berlangsung cukup lama, meski tidak sampai kemudian terjadi keributan fisik.

‘’Orang Bosnia dan Serbia masih saling bertengkar ketika bertemu,’’ kata Nadeem pemandu wisata asal Belanda yang keturunan Turki. Kebetulan dia adalah saksi mata langsung tragedi pembantaian itu. Tak hanya itu Nadeem hadir sebagai relawan yang pertama pada hari-hari sesuai terjadi pembantaian dan pengungsian besar-besar Muslim Srebrenica.

’’Mengenang pembantaian itu saya pun masih emosi. Setiap datang ke sini saya sedih luar biasa,’’ ujarnya.

Pada 11 Juli 1995 atau 23 tahun silam atau sesudah tiga tahun Bosnia memasuki masa perang saudar,militer Serbia  menyerbu zona aman yang didirikan PBB di kota timur Sarajevo, yakni Srebrenica. Mereka memisahkan sekitar 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim dari para wanita yang mencari perlindungan di daerah tersebut.

Setelah mengumpulkan para lelaki Musllim Bosnia, mereka membawanya ke ladang dan gudang di desa-desa sekitarnya. Di situlah tragedi terjadi. Para lelaki Serbia bersenjata ini membantai mereka selama tiga hari. Sebagian pengungsi ada yang berhasil lari, namun sebagian besar terbunuh.

Kekejaman itu terlihat jelas adanya usaha nyata yang berusaha melikuidasi penduduk Muslim Bosnia. Skenario ini sebagai bagian dari upaya untuk mengukir kebesaran Serbia setelah keluar dari reruntuhan Yugoslavia. Bosnia memilki memiliki populasi Muslim yang besar. Kroasia, dan Serbia pun begitu sebenarnya, namun dahulu tak menjadi masasalah ketika mereka masih bersatu dalam republik sosialias komunis Yugoslavia yang memang nyaris tanpa tanpa adanya mayoritas etnis. (lihat peta).

Militer Serbia di bawah komando Milosevic, Karadzic, dan para militan yang di bawah kepemimpinan Ratko Mladic, mereka  melakukan pembersihan etnis untuk membasmi sebanyak mungkin Bosnia dari bekas Yugoslavia itu. Tujuannya jelas, menguasai Bosnia dan mendirikan Serbia Raya.

Maka peristiwa pembantaian Srebrenica adalah hasil yang tak terelakkan. Tindakan pembunuhan massal ini menyampaikan pesan brutal bahwa umat Islam tidak aman di mana pun di dalam negeri itu. Bukan hanya itu saja, semenjak awal PBB dan masyarakat internasional sepertinya tidak dapat  dan tidak mau melindungi mereka.

Padahal kala itu, yakni semenjak tahun 1993 PBB sebenarnya ya telah membentuk zona demiliterisasi di Srebrenica. Organisasi dunia ini berusaha menciptakan sebuah wilayah di mana Muslim yang dipaksa keluar dari rumah mereka di tempat lain di Bosnia dapat menemukan keamanan dari serangan Serbia bila tinggal di tempat itu.

Namun, orang-orang Serbia berniat mengambil wilayah ini yang juga menjadi kantong perlawanan para Muslim Bosnia.  Bagi Serbia, mengutip sebuah memo CIA yang tidak diklasifikasikan, kala itu menggambarkan Srebrenica sebagai sebuah zona yang menyedak lehernya. Zona aman di timur Bosnia ini dipandang layaknya ‘tulang ikan di tenggorokan orang Serbia.’ Maka Serbia akhirnya nekad melakukan penyerbuan ke Srebrenica.  Mereka juga sebenarnya tahu bila penyerangan itu berisiko terjadinya pembantaian terhadap kaum Muslim Bosnia.

Nah, pada hari pekan pertama di awal Juni 1995 itulah kekejaman terjadi. Pasukan Serbia menyisir desa-desa sekitar, memaksa sekitar 20.000 Muslim Bosnia mengungsi dan keluar dari zona aman yang ada di dalam wilayah aman PBB tersebut.

Tak hanya menculik warga Bosnia, pasukan Serbia juga telah menculik 30 pasukan pemelihara perdamaian asal Belanda. Apalagi, kala itu pasukan perdamaian asal Belanda tak punya kekuatan senjata yang cukup. Selain kalah jumlah, mereka hanya dilengkai senjata seadanya sehingga tak mampu menjaga Serbenica yang dijadikan zona aman oleh PBB tersebut. Tak ayal lagi, tepat pada 6 Juli 1995 penyerbuan Srebrenica dimulai. Serbia dengan sangat jelas  tidak menghormati area aman PBB tersebut.

Pada jam-jam menjelang pembunuhan, Jendral Serbia Ratzko Mladic –yang menghadapi kini tuduhan kejahatan perang– dalam sebuah video tertawa-tawa dan membagi-bagikan permen kepada pasukannya. Seorang wartawan veteran CNN, Christiane Amanpour, sempat merekam momen itu. Hasilnya, salah satu potongan video yang dibuatnya menjadi momentum hidup Amanpour yang  paling tidak bisa dihilangkan dari ingatannya,”Gambar itu menjadi sebuah tanyangan yang paling mengerikan yang pernah saya lihat dalam hidup saya.”

Ironinya, petualangan dan kekejaman pasukan Serbia tak mendapat soroton yang layak. Komunitas internasional seakan tidak peduli. Pasukan PBB hanya sedikit sekali di Serbenica. Tempat itu yang seharusnya dijaga oleh 6.000 pasukan perdamaian, kala penyerbuan Serbia datang hanya dijaga sekitar 600 orang saja. Mereka tak berarti apa-apa karena hanya dilengkapi senjata ringan. Sedangkan pasukan Serbia menyerbu dengan senjata lengkap dan dilengkapi dengan tank serta senjata berat lainnya.

Memang ketika pasukan Mladic dan tentara Serbia Bosnia (kemudian ditulis Serbia saja, red) memasuki Srebrenica, pasukan penjaga perdamaian memasang melakukan sedikit perlawanan dan bahkan membatalkan serangan udara ketika orang-orang Serbia mengancam akan membunuh sandera Belanda mereka. Tapi mereka tak berdaya banyak. Bahkan, di kemudian hari, penjaga perdamaian ini dituduh merusak bukti video yang menandai aksi kelambanan mereka untuk menyelematkan warga Muslim Bosnia di Srebrenica.

Sebuah catatan seorang warga Bosnia, Armin Rosen, menceritakan kekejaman itu.  Katanya, “Mereka culik warga dari pengungsian serta di tembaki di sekitar wilayah Srebrenica yang berbukit-bukit. Pasukan Serbia menahan hampir semua pria Muslim yang ada di daerah itu untuk ‘interogasi’. Lebih dari 8.000 orang mereka bunuh pada hari-hari berikutnya,’’ kata Armin dalam tulisannya.

Akhirnya, dunia internasional pun tak tahan terhadap aksi kejam itu. Pembantaian itu menggugah opini internasional dan menyebabkan intervensi Amerika Serikat. NATO terpaksa masuk ke dalam perang sipil Bosnia. Alhasil, tak lama setelah penyerbuan dan pembantaian itu, bom NATO mulai dijatuhkan pada posisi Serbia.

Alhasil, fajar perdamaian mulai muncul. Pada November 1995, Milosevic dan Presiden Bosnia Alija Izetbegovic menandatangani Kesepakatan Dayton yang ditengahi AS. Kesepakatan inilah yang menjadikan Bosnia sebagai satu negara sekaligus menciptakan sebuah ‘republik’ di belakang garis depan Serbia.

Menurut The New York Times, 6.930 mayat telah diidentifikasi dari 17.000 bagian tubuh yang ditemukan di lusinan kuburan massal Srebrenica. Seorang direktur jenderal Komisi Internasional untuk Orang Hilang, menulis dalam editorial di The Guardian sempat mengatakan: “Mereka yang tewas di Srebrenica pada Juli 1995 percaya mereka bisa lolos dari pembunuhan. Mereka pikir mereka bisa menghapus identitas korban mereka secara permanen. Sayangnya anggapan mereka salah!”

Dan ini terbukti lima belas tahun kemudian, yakni pada 26 Mei 2011, Jendral Ratko Mladic ditangkap dan ditahan di Serbia sebagai tersangka dalam pembantaian di Srebrenica itu. Kemudian pada Maret lalu 2017, delapan tentara Serbia lainnya ditangkap karena dicurigai ikut serta dalam pembunuhan.

Ya itulah tragedi pembantaian baru atau genosida di abad moderen ini. Apakah orang masih peduli dan ingat? Apakah mereka dibiarkan saja karena mereka Muslim? Kalau benar celaka sekaligus ironis memang!

Sumber: https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/18/07/12/pbppxj385-ketika-dunia-terlupa-pembantaian-muslim-bosnia



Bung Karno dan Sejarah Tren Kopiah Hitam Indonesia

“Ciri khas saya…simbol nasionalisme kami.” begitulah ucap Sukarno dalam buku biografinya yang berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, yang ditulis Cindy Adams.

Saat berusia 20 tahun, Bung Karno kecil sedang duduk di belakang tukang sate. Bung Karno tegang. Perutnya mulas. Sambil menahan sakit, Sukarno mengamati banyak kawan-kawannya. Dalam pengamatannya, Bung Karno menilai bahwa kawannya banyak lagak, tak mau pakai tutup kepala karena ingin seperti orang Barat.

Hasil itu ia temukan usai perdebatan sengit terjadi di dalam nuraninya. “Apakah engkau seorang pengekor atau pemimpin?” tanyanya dalam batin. “Aku seorang pemimpin.” timpalnya lagi. “Kalau begitu, buktikanlah,” balasnya. “Majulah. Pakai pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuklah ke ruang rapat… Sekarang!”.

Tingkah ‘Putra Sang Fajar’ ini membuar orang-orang ternganga melihatnya. Mereka, kaum intelegensia yang membenci pemakaian blangkon, sarung, dan peci karena dianggap cara berpakaian kaum lebih rendah. Kemudian Bung Karno memecah sunyi.

“Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia. Merdeka,” katanya.

Namun, Bung Karno bukanlah intelektual pertama kali yang menggunakan peci. Salah satu guru Bung Karno, dr Tjipto sudah lebih dulu mengenakkan topi serupa. Pada 1913, dalam rapat Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP), di Den Haag, Belanda, Tjipto sudah mengenakkan kopiah dari beludru hitam.

Pengaruh Bung Karno ternyata begitu luas. Pada pertengahan 1932, dalam Partindo Sukarno melancarkan kampanye memakai barang-barang bikinan Indonesia, termasuk peci lurik. Hingga akhirnya peci atau kopiah hitam kemudian begitu populer.

Kecintaannya kepada peci juga bisa dilihat usai mengunjungi Pondok Pesantren Darul Funun El Abbasiyah (DFA). Sebelum kemerdekaan Inonesia, ia mengunjungi Syekh Abbas Abdullah, pemimpin ponpes tersebut. Kedatangannya untuk bertanya soal Indonesia ke depannya.

Sepulangnya dari sana Bung Karno terlihat sumringah. Ternyata ia mendapat buah tangan favorit dari Syekh Abbas. Sukarno terlihat memakai peci baru yang agak lebih tinggi. (*)



Tukar Peci Bung Karno, Titip Sila Ketuhanan

Ziarah ke Makam Syekh Abbas Abdullah, Imam Jihad Sumatera Tengah

Jika ada pertanyaan, siapa ulama asal Minangkabau yang dihormati Bung Karno? Barangkali, Syekh Abbas Abdullah adalah salah satu jawabannya. Imam Jihad Sumatera Tengah, pentolan Madrasyah Sumatera Thawalib dan pemimpin Darul Funun El-Abbasiyah ini, tidak sekadar memberi peci tinggi untuk Bung Karno. Tapi, juga menitip Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar negara Indonesia. Seperti apa sosok Syekh Abbas?

Matahari sudah condong ke barat saat Padang Ekspres bersama sastrawan peraih penghargaan SEA Write Award dari Raja Thailand, Gus tf Sakai, serta sastrawan pemegang rekor penulisan puisi dan pantun terpanjang di Indonesia, Adri Sandra, berziarah ke makam Syekh Abbas Abdullah. Makam ulama besar ini terletak di kawasan Puncakbakuang, Jorong Padangjapang, Nagari VII Koto Talago, Kecamatan Guguak, Limapuluh Kota.

Makam Syekh Abbas berada di dekat makam ayah kandungnya, Syekh Abdullah, lebih awal tercatat sebagai ulama besar di Ranah Minang. Selain makam sang ayah, di samping makam Syekh Abbas terdapat makam dua kakaknya, yakni Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Muhammad Shalih. Kemudian, juga ada makam putra kandung Syekh Abbas, yakni H Fauzi Abbas.

”Totalnya, ada lima makam di sini. Yang paling kanan, makam Syekh Abbas,” kata Faisal El-Abbasy, cicit Syekh Abbas yang menyambut hangat kedatangan kami. Sayangnya, Faisal yang saat itu didampingi seorang mualaf asal Timor Leste tidak mau banyak bercerita soal sejarah hidup kakek buyutnya.

”Saya takut salah-salah memberi keterangan. Apalagi untuk tulisan sejarah. Mungkin lebih baik menghubungi paman saya, Dr Afifi Fauzi Abbas, dosen IAIN Bukittinggi. Beliau, selain cucu Syekh Abbas, juga dipercaya sebagai ketua Yayasan Darul Funun El-Abbasiyah, lembaga pendidikan Islam yang didirikan Syekh Abbas,” saran Faisal.

Saran serupa disampaikan sastrawan Adri Sandra yang asli putra Padangjapang. ”Kalau mau menulis soal Syekh Abbas, mungkin Dr Afifi bisa menjelaskan. Atau bisa juga menghubungi pimpinan Darul Funul El-Abbasiyah saat ini, yakni Drs Adia Putra. Kebetulan, saya masih punya hubungan keluarga dengan beliau. Nanti, kita mampir ke rumahnya,” kata Adri Sandra seraya mengajak Padang Ekspres mampir ke rumah Ustad Adia Putra.

Meski sempat ngopi di rumah alumni IAIN Imam Bonjol Padang tersebut, tapi kami tidak sempat bercerita panjang soal Syekh Abbas karena Maghrib sudah datang menjelang. Walau begitu, bukan berarti riwayat hidup Syekh Abbas tidak bisa digali. Karena berjarak beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Sabtu lalu (2/6), Padang Ekspres bertemu dengan Dr Afifi Fauzi Abbas di kawasan Tarok, Koto Nan Gadang, Payakumbuh.

Ulama Pembaharu

Dr Afifi yang saat ini menjabat Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Limapuluh Kota, lumayan luas mengetahui sejarah hidup Syekh Abbas. Kakeknya itu, menurut Afifi, lahir pada 1883 Masehi dan wafat pada 1957, dalam usia 74 tahun. ”Tentang riwayat hidup Syekh Abbas, sudah banyak yang menulisnya. Yang paling komplit itu, tulisan Fachrul Rasyid HF dan Adi Bermasa,” kata Dr Afifi, sambil menyebut nama dua wartawan senior Sumbar.

Bagi Dr Afifi, Syekh Abbas adalah sosok ulama pembaharu di Ranah Minang. Meski lahir dari lingkungan Islam tradisional, karena ayahnya Syekh Abdullah, serta saudara lelakinya Syekh Mustafa dan Syekh Muhammad Shalih, merupakan ulama tariqat. Namun, Syekh Abbas yang pernah berguru kepada Syekh Khatib Kumango dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, memiliki pandangan lebih moderat.

”Syekh Abbas dengan pengalamannya menimba ilmu agama di Mekkah dan Mesir, serta melihat pola pendidikan Islam di Timor Tengah, termasuk pernah ke Iran, berhasil mengubah pola pendidikan Islam di Minangkabau. Dari sistem pendidikan halaqah (guru duduk mengelilingi murid) menjadi sistem klasikal atau madrasah seperti kita temui sekarang ini,” kata Dr Afifi Abbas.

Hal ini juga dibenarkan Profesor Mestika Zed, sejarawan dari Universitas Negeri Padang. Dalam diskusi terbatas dengan Padang Ekspres, Mestika menyebut, kepeloporan generasi pembaharuan Islam di Minangkabau, ditandai dalam dua gelombang. Ada gelombang pembaharuan awal abad 19. Kemudian, ada pula gelombang pembaharuan awal abad 20.

”Generasi pertama dalam gelombang pembaharuan Islam awal abad 19, dipelopori tiga haji dalam Perang Paderi. Yakni, Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang. Mereka disebut berasal dari kelompok Wahabi. Tapi, saya lebih suka menyebut mereka dari kelompok puritan,” kata Mestika.

Sedangkan bibit akhir dari generasi pembaharuan Islam awal abad 19 di Minangkabau itu, menurut Mestika Zed, sentranya berada di Padangjapang Limapuluh Kota. Yakni, di Perguruan Darul Funul El-Abbasiyah yang dipimpin Syekh Abbas sebagai kelanjutan dari surau yang didirikan ayahnya. ”Jadi Padangjapang dan Syekh Abbas itu memiliki peran penting dalam pembaharuan Islam di Minangkabau,” tukas Mestika.

Disegani Bung Karno

Peran Syekh Abbas Abdullah sebagai ulama pembaharu di Minangkabau diketahui oleh Ir Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia. Buktinya, jauh sebelum memproklamirkan kemerdekaan bersama Drs Mohammad Hatta yang merupakan cucu dari Syekh Abdurrahman (ulama ini juga berasal dari Limapuluh Kota, red), Bung Karno pernah secara khusus menemui Syekh Abbas Abdullah di kampus Darul Funun El-Abbasiyah di Padangjapang.

Pertemuan Bung Karno dan Syekh Abbas berlangsung pada 1942. Tepatnya setelah Bung Karno dibebaskan Belanda dari tempat pembuanganya di Bengkulu. Pertemuan empat mata antara “singa podium” dengan ulama pembaharu itu, dicatat wartawan senior Fachrul Rasyid HF dalam sejumlah tulisannya.

Menurut Fachrul, Syekh Abbas yang bertubuh tinggi kekar dan bercambang, sempat kurang sedap menyambut kedatangan Bung Karno. Soalnya, Bung Karno yang ditemani istrinya Inggit Ganarsih, datang terlambat. Padahal, warga dan siswa sudah capek menanti. ”Kalau begini nanti kau memimpin negara ini, rakyat akan kecewa. Negara akan binasa,” kata Syekh Abbas.

Bung Karno, yang paham watak keras Syekh Abbas, menurut cerita yang didengar Fachrul dari masyarakat dan keluarga syekh, cuma tersenyum dan menunduk. Mereka berdua kemudian masuk ke kamar kerja Syekh Abbas. Hampir tiga jam berbicara empat mata. Sementara itu, Ibu Inggit (istri Soekarno) dan anak angkatnya ditemani Nurjani dan Zuraida, keponakan syekh, berbincang di ruang tamu,” tulis Fachrul Rasyid dalam laporan jurnalistik di Majalah Gatra.

Saat menemui Syekh Abbas di Padangjapang, Bung Karno mendapat hadiah berupa peci dengan ukuran lebih tinggi. Sebelumnya, peci Bung Karno berukuran pendek. Menariknya, saat memberikan peci kepada Bung Karno, Syekh Abbas sempat berpesan. ”Kamu harus berhati-hati terhadap kaum komunis dan sekuler yang akan menghancurkan bangsa ini. Peci ini kuberikan supaya kamu menyadari bahwa bangsa Indonesia ini mayoritas umat Islam,” pesan Syekh Abbas.

Selain meminta hati-hati terhadap bahaya komunis dan sekuler, Syekh Abbas yang diminta pendapat oleh Bung Karno tentang konsep dasar-dasar dan penyelenggaraan negara, juga menitip pesan bahwa negara Indonesia yang akan didirikan haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pesan Syekh Abbas ini yang diyakini banyak pihak, dituangkan Bung Karno dalam sila pertama Pancasila yang dipidatokan pada 1 Juni 1945. (*)

Sumber: https://padek.co/koran/padangekspres.co.id/read/detail/105618/Tukar_Peci_Bung_Karno,_Titip_Sila_Ketuhanan

Editor : Elsy Maisany
Sumber Berita : Fajarillah Vesky – Padang Ekspres



Beasiswa Baznas untuk Siswa DFA yang mendapat PMDK

Alhamdulillah Darulfunun dan warganya senantiasa diberi keberkahan oleh Allah.

Tidak lama setelah acara perpisahan kelas XII, BAZNAS Kabupaten Limapuluhkota memberikan beasiswa untuk para siswa yang mendapat kesempatan PMDK di berbagai PTN.

Beasiswa ini diharapkan mampu membantu para siswa untuk menyelesaikan rencana perkuliahannya.

Serah terima beasiswa ini diwakili oleh Bapak Ketua Yayasan Darulfunun El-Abbasiyah.



Tarhib Ramadhan 2018

Marhaban Ramadhan

Warga Indonesia di Selangor, Malaysia pada hari minggu tanggal 6 Mei 2018 berkumpul di Surau Al-Kautsar Seksyen 4 Bandar Baru Bangi.

Acara Tarhib Ramadhan 2018 yang dihadiri oleh 100 warga dari berbagai profesi ini mengangkat tema “Ramadhan di Timur Tengah, Eropa dan Nusantara”, dengan pembicara Ust Muklis Bakri, Ust Arif Abdullah dan dimoderator oleh Ust Satria Abadi. Tema ini diangkat sebagai penyegar dan penyemangat bagi kita untuk merencanakan kegiatan Ramadhan dalam rangka berlomba-lomba melakukan kebaikan, fastabiqul khairat.

Dalam acara ini juga diinfokan kegiatan-kegiatan Tarhib Ramadhan sepanjang bulan Ramadhan, yang diantaranya adalah buka puasa bersama, penggalangan zakat dan infaq, hingga perayaan dan silaturahmi Iedul Fitri.

Berdasarkan informasi dari panitia Tarhib Ramadhan, Forkommi (Forum Komunikasi Muslim Indonesia) dan Fokma (Forum Komunikasi Muslimah Indonesia), acara ini diadakan agar para masyarakat Indonesia di perantauan dapat memaksimalkan bulan ramadhan dan juga mendapatkan kesempatan untuk bersilaturahmi antar warga Indonesia di perantauan.



Musyawarah Ulama Pesantren

Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak mengadakan Musyawarah Ulama Pesantren dengn tem Mendialogkan Praktek Sunat Perempuan di Indonesia.

Acara yang berlangsung di Hotel Novotel Bogor pada tanggal 2-3 Mei 2018 ini juga bersamaan dengan acara pertemuan Ulama se-dunia yang diadakan oleh Kementerian Agama.

Acara yang mengundang ulama-ulama fiqh pesantren se-Indonesia ini mendatangkan narasumber Prof A Raghab MD PhD yang menyertai rombongan Al-Azhar, Kairo dengan memaparkan Sunat Perempuan dalam perspektif Agama dan Medis, pengalaman dari Mesir.

Dalam musyawarah ini Pesantren Darul Funun El-Abbasiyah diwakili oleh Ketua Yayasan Dr Afifi Fauzi Abbas, MA yang merupakan ulama fiqih dan pengajar ushul fiqih di UIN Syarif Hidayatullah dan kini di IAIN Bukittinggi.

Musyawarah ini memberikan perspektif bahwa sunat perempuan tidak dihukumi wajib tapi boleh (mubah). Tidak boleh memotong secara keseluruhan, tetapi cukup hanya menggores sedikit dan yang melakukannya harus petugas medis terlatih dengan memperhatikan kebersihan dan kesehatannya.

Sunat perempuan adalah menggores klitoris perempuan setelah kelahirannya tanpa melukai dalam rangka kebersihan. Hukumnya sunat bagi anak perempuan mubah boleh dilakukan dan boleh juga ditinggalkan. Kalau menimbulkan mudarat baik fisik maupun psikhis hukumnya jadi haram. Sunat perempuan tidak sama dengan FGM (Female Genital Mutilation), pemotongan secara keseluruhan yang dikecam di negara barat, karena FGM dengan tipe apapun adalah melukai atau memotong atau membuang, yang dapat memberikan kemudharatan.

Dalam acara ini juga disaksikan oleh Imam Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar.



Pengajian dan Penyerahan Waqaf Quran di Masjid Djami’ Sholihin, Mungka

Penyerahan Waqaf Al-Quran pada kegiatan pengajian di Masjid Djami’ Sholihin, Padang Bajang Kec. Mungka Kabupaten Limapuluhkota, Sumatera Barat. Penyerahan ini dilakukan oleh sukarelawan Aamil di Kab. Limapuluhkota Buya Afifi.

Program waqaf Al-Quran ini adalah program yang sudah berjalan sejak tahun 2017, program ini diharapkan menjadi bekal semangat dan modal untuk para dai, lembaga dakwah dan surau di kabupaten limapuluhkota. Sampai saat ini sudah 1300 Al-Quran sudah didistribusikan melalui program ini.

Semoga waqaf ini bermanfaat bagi yang menerimanya dan para muwaqif mendapat pahala amal jariyah.

Informasi penggalangan dana waqaf: www.kitabisa.com/waqafquran



1001 Cures: Contributions in Medicine and Healthcare from Muslim Civilisation

1001 Cures: Contributions in Medicine and Healthcare from Muslim Civilisation tells the fascinating story of how generations of physicians from different countries and creeds created a medical tradition admired by friend and foe…

About The Book

Medicine and allied sciences flourished in the medieval Islamic world. 1001 Cures: Contributions in Medicine and Healthcare from Muslim Civilisation tells the fascinating story of how generations of physicians from different countries and creeds created a medical tradition admired by friend and foe. It influences the fates and fortunes of countless human beings, both East and West.

Based on a translation movement of Greek medical tests, it drew on the legacy of surrounding cultures (Egyptian, Persian, Indian and Chinese). Importantly, it innovated in surgery, gynaecology, paediatrics and pharmacology, to name just a few areas. Ultimately, this tradition served as the foundation for European university medicine in the medieval and early modern period and has thus impacted on healthcare until today.

The choice of the title 1001 cures like its predecessor publication 1001 Inventions, reminds us of the famous 1001 Nights or the Arabian Nights. These were allegedly stories to entertain the caliph of Baghdad Harun al-Rasheed who, like his son Al-Mamoon, was a patron of the arts and mathematics. During their period the movement of translation of philosophical, cultural and medical heritage of the antiquities to Arabic contributed to the start of new Renaissance of intellectual activities in the Middle East, North Africa and Central Asia in the high middle age. This is demonstrated in this superb volume. It is a substantial contribution to this important point of the history of Medicine and Healthcare. It comes at a time when the world desperately needs intercultural understanding and appreciation. It is an unalloyed pleasure to commend it to you.” Professor Sir Magdi Yacoub (Extract from book foreword)

About The Authors

1001 Cures: Contributions in Medicine and Healthcare from Muslim Civilisation is a multi-author book, where distinguished authors, physicians and historians of science have key contributions. The book, which is edited by Peter E Pormann, falls in 19 chapters and features 13 authors.

Rabie E. Ebdel-Halim

Rabie E. Abdel-Halim (deceased) was a consultant urologist who researched and lectured on the subject for more than 30 years and was last an emeritus professor of urology at King Saud University Medical College, Riyadh, Saudi Arabia. Professor Abdel-Halim developed an interest in medical history for over 20 years and published widely in various international journals and conference proceedings, and became a visiting professor at Al-Faisal University, Riyadh, where he authored and taught courses on the History of Islamic Science and Islamic Medical Ethics. In 2005 he was awarded the Kuwait Foundation for Advancement of Sciences prize. He was also a poet with several Arabic poetry publications. His website is www.rabieabdelhalim.com.

Peter Adamson

Peter Adamson is Professor of Late Ancient and Arabic Philosophy at the LMU in Munich; he moved to Munich from King’s College London, where he is still affiliated. He has written two monographs on al-Kindī and his circle, and together with Peter E. Pormann produced a book of translations of al-Kindī’s works. He has published numerous articles on ancient and medieval philosophy and edited a number of volumes, mostly recently, again together with Peter E. Pormann, Philosophy and Medicine in the Formative Period of Islam (2017).

Natalia Bachour

Natalia Bachour studied pharmacy at the Universities of Damascus and Kiel, translation at the University of Mainz, and history of medicine at the University of Heidelberg, where she obtained a doctorate with the thesis on early modern Paracelsian physicians and how their word was received in Arabic and Turkish; the thesis won the Prix Carmen Francés. Since 2010, she works at the University of Zurich, teaching Arabic and history of medicine. Her research focuses on the human body as a remedy in cultural and medical history.

Hans Hinrich Biesterfeldt

Hans Hinrich Biesterfeldt read Arabic and Islamic Studies, Ancient Philosophy and Medieval History at Freiburg im Breisgau, Munich, Göttingen (PhD 1970), and Yale. After a two-year fellowship at the Orient-Institut of the Deutsche Morgenländische Gesellschaft in Beirut he taught Arabic and Islamic Intellectual History at the Universities of Heidelberg and Bochum. He published on the transmission of Greek medicine and philosophy to Arabic culture, on the early history of classifications and transmission of knowledge in Islam, and on classical Arabic prose literature.

Leigh Chipman

Leigh Chipman (PhD 2006, The Hebrew University of Jerusalem) is an independent scholar, editor and translator based in Jerusalem. She has held post-doctoral fellowships at Ben-Gurion University of the Negev (Beersheba) and Tel Aviv University, and has been a research fellow on projects on the reception of Galen in Arabic and Hebrew (Bar-Ilan University) and on Arabic epigraphy and on affluence in the Fatimid period (both at the Hebrew University of Jerusalem). Her own research focuses social and intellectual history of medicine and science in the Mamluk period and the Cairo Genizah. With Peter E. Pormann and Miri Shefer-Mossensohn, she has recently editied the two-volume special issue of Intellectual History of the Islamicate World on ‘Medical Traditions’.

Aileen Das

Aileen Das is an Assistant Professor of Classical Studies at the University of Michigan. Her work draws attention to the relationship between medicine and philosophy in the classical and medieval Islamicate worlds. She is broadly interested in the transfer of Greek philosophical knowledge into Arabic. Her research considers not only how the transmission of certain texts shaped the development of ‘Arabic Platonism and Aristotelianism’, but also how the translators of these texts, who were working in the Sinai, Palestine, and Baghdad, adapted the sources for their monotheistic readership.

Nahyan Fancy

Nahyan Fancy is an Associate Professor of Middle East/ Comparative History at DePauw University. His research interests are in pre-1500 medicine and intellectual history. He published a monograph on Science and Religion in Mamluk Egypt (Routledge, 2013), examining the intersections of philosophy, theology and medical physiology in the works of Ibn al-Nafīs. His current research focuses on Arabic medical commentaries on Avicenna’s Canon of Medicine, particularly the many developments that took place in medical physiology between 1250–1520 across Islamic societies. He was a member of the Institute for Advanced Study, Princeton, in autumn 2015.

Peter E. Pormann

Peter E. Pormann in Professor of Classics and Graeco-Arabic Studies at the University of Manchester. Recent publications include two special double issues The Arabic Commentaries on the Hippocratic ‘Aphorisms’ (Oriens, co-edited with Kamran I. Karimullah; 2017), and Medical Traditions (Intellectual History of the Islamicate World, co-edited with Leigh Chipman, Miri Schefer-Mossensohn; 2017–18) and two edited books: La construction de la médecine arabe médiévale (with Pauline Koetschet, 2016); and Philosophy and Medicine in the Formative Period of Islam (with Peter Adamson; 2017). His Cambridge Companion to Hippocrates is forthcoming in 2018.

Pauline Koetschet

Pauline Koetschet is a researcher at the Centre National de la Research Scientifique. She studied philosophy at the École normale supérieure (Rue d’Ulm) in Paris, and obtained a doctorate from the Unversities of Paris-Sorbonne and Warwick with a thesis on Abū Bakr al-Rāzī. She has published an anthology of Arabic philosophy (La Philosophie arabe, IVe-XIVe siècle, 2011) and edited, with Peter E. Pormann, La construction de la médecine arabe médiévale (2016). She is currently preparing a critical edition and French translation of al-Rāzī’s Doubts about Galen (al-Shukūk ʿalā Jālīnūs).

Mahmoud Misry

Mahmoud Misry, Lecturer at Fatih Sultan Mehmet University, Istanbul. In 1990 he obtained a BSc degree in Paediatrics, and in 2002 he obtained a PhD on the History of Medicine from the Institute for the History of Arabic Science, Aleppo University. He is also the Director of the Wakfiyah Manuscript Library. He is the author of numerous books, papers and presentation on history of medicine in Arabic. In 2005 his book on the Benefits of Bodies and Souls (Maṣāliḥ al-abdān wa-l-anfus) by al-Balkhī was awarded a prize by the International Union for the History and Philosophy of Science. His book on the History of Paediatrics in Arabic and Islamic Heritage was awarded the 2005 Prize of Kuwait Foundation for the Advancement of Sciences.

Ahmed Ragab

Ahmed Ragab is the Richard T. Watson Associate Professor of Science and Religion at Harvard Divinity School, affiliate associate professor at the department of the history of science, and director of the Science, Religion and Culture program at Harvard Divinity School. He obtained an MD from Cairo University in 2005 and a PhD in History and Philosophy of Science from L’École Pratique des Hautes Études in Paris (2010). His thesis, now published as a book The Medieval Islamic Hospital: Medicine, Religion and Charity (2015), dealt with medieval hospital provisions in the Islamic world. Other interests include the history of prophetic medicine and modern Islam’s relationship to science and medicine.

Emily Selove

Emily Selove is a lecturer at the University of Exeter, where she teaches and researches medieval Arabic literature. Her published monograph, Ḥikayat Abī al-Qāsim: A Literary Banquet, centres on the eleventh century story of a Baghdadi party-crasher in Isfahan. She published a translation of Al-Khaṭīb al-Baghdādī’s partycrashing book, Selections from the Art of Party-Crashing in Medieval Iraq (2012). Her current research involves a literary reading of medieval Arabic magical texts, and a translation and edition of Sirāj al-Dīn al-Sakkākī’s thirteenth-century handbook of magic, Al-Kitāb al-Shāmil wa-l-baḥr al-kāmil (The Comprehensive Book and the Full Sea).

Justin Stearns

Justin Stearns is an Associate Professor at New York University Abu Dhabi. His research interests focus on the intersection of law, science, and theology in the pre-modern Muslim Middle East. His first book was Infectious Ideas: Contagion in Pre-Modern Islamic and Christian Thought in the Western Mediterranean (2011) and he has published articles in Islamic Law and Society, Medieval Encounters, Al-Qantara, and History Compass. He is currently working on a book on the social status of the natural sciences in early modern Morocco entitled Revealed Science: The Natural Sciences in Islam in the Age of al-Ḥasan al-Yūsī (d. 1691) as well as on an edition and translation of al-Yūsī’s Muḥāḍarāt for the Library of Arabic Literature.

RS Book Launch
London: 14 March 2018; The Foundation of Science, Technology and Civilisation (FSTC), the publishers of the title 1001 Cures: Contributions in Medicine and Healthcare, in partnership with Healthcare Development Holding (HDH) organised a book launch event at the Royal Society in London in celebration of the British Science Week 2018.

The book launch event included an enlightening panel discussion that presented the long medical traditions from the East including Muslim and Indian civilisations as well as along the Silk Road. The panel, which was moderated by Bettany Hughes, included Peter Frankopan, Peter Pormann and Aarathi Prasad. The distinguished speakers discussed the fascinating legacy of healthcare from the Eastern world, and how it drew on ancient cultures and influenced European thought.

After the panel speeches were made by: Mr Ian Fenn, representing publishers; Dr Wael Kaawch representing the sponsors; Prof Peter Porrman representing the authors; Dr Tarek Fadaak and Dr Ahmed Abo Khatwa representing the readers; Dr Sharif Kaf Al-Ghazal reading a tribute on late Dr Rabie Abdel Halim sent by Prof Glen Cooper.


At the centre, Prof Sir Venki Ramakrishnan, president of Royal Society, recieving 1001 Cures book in his office

Where to find
To enquire about obtaining a copy of the 1001 Cures: Contributions in Medicine and Healthcare in Muslim Civilisation, please contact fstc.

Sumber: http://www.fstc.org.uk/node/302

 



Pengajian Mahasiswa Indonesia di UKM Malaysia

Kegiatan dakwah Darulfunun di Malaysia tahun 2018 ini dimulai kembali di Gedung perpustakaan Tun Sri Lanang, Universitas Kebangsaan Malaysia.

Sebagai narasumber adalah Ust Arif Abdullah yang juga adalah Kordinator Divisi Pengembangan dan Jaringan Darulfunun.

Tema yang disampaikan adalah “Yang Muda Yang Mempesona”, karakter yang perlu dibina dalam masa pembelajaran. Alhamdulillah pengajian ini dihadiri oleh lebih tiga puluh mahasiswa baik mahasiswa S1, S2 hingga S3.

Dalam kesempatan ini juga disampaikan harapan terhadap generasi muda dan pelajar-pelajar Indonesia di luar negara, untuk terus peduli terhadap tanah air dan juga berpartisipasi dalam memberikan solusi permasalahan umat secara global.

Pengajian ini ditutup dengan ramah tamah dengan hidangan Bakso dan pengumuman door prize.

Ust Arid menyampaikan dimana pun kita berada, baik perantauan jauh, tidak menghilangkan tanggung jawab kita dalam berdakwah, baik menyediakan tempat, makanan, pengurusan, tausiah, atau apapun yang bisa kontribusikan adalah amal kita dalam berdakwah amar ma’ruf nahi munkar dan juga menjaga marwah umat muslim.

Acara ini diselenggarakan oleh Divisi Kerohanian PPI UKM Malaysia.



Pengajian dan penyerahan amanah waqaf Al-quran di Masjid Mutaqaddimin, Andaleh

Ketua PDM Muhammadiyah Kab. Limapuluhkota yang juga pembina Yayasan Darulfunun El-Abbasiyah mendapat undangan sebagai narasumber pengajian di Masjid Mutaqaddimin, Andaleh Kab. Limapuluhkota.

Pengajian ini diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Limapuluhkota bekerjasama dengan Pengurus Masjid Mutaqaddimin, Andaleh sebagai upaya untuk mengajak amar ma’ruf nahi munkar dan mempererat ukhuwah Islamiyah.

Dalam kesempatan ini juga diserahkan amanah waqaf Al Quran Terjemah A5 untuk dipergunakan dalam kegiatan Masjid.

Semoga Allah meridhai amal dakwah ini dan menjadikan waqaf alquran ini sebagai amal jariyah para muwaqif, insyaallah.

informasi waqaf alquran: www.kitabisa.com/waqafqurandfa



Mengamanahkan 191 Alquran Waqaf kepada Pelajar DFA

Alhamdulillah,

minggu ini Program Waqaf Alquran Aamil menyerahkan amanah Alquran waqaf kepada para santri Perguruan Darulfunun El-Abbasiyah tahun ajaran 2017/2018 untuk tingkat MTs dan MA sebanyak 134 Alquran ukuran A6 terjemah saku, dan juga menyusul menyerahkan amanah Alquran sebanyak 37 Alquran untuk siswa kelas 12.

Perguruan Darulfunun menjadi prioritas pembagian karena komposisi siswa yang unik dari berbagai lokasi di Kabupaten Limapuluhkota dan Sumatera Barat, pesantren modern ini juga adalah pesantren unggulan untuk daerah Limapuluhkota yang dibina oleh Kandepag Limapuluhkota.

Dalam kesempatan ini juga diserahkan 20 Alquran terjemah A6 untuk didistribusikan ke Gunung Omeh, Suliki yang berbatasan dengan Bonjol.

Semoga amanah yang sedikit ini bisa menjaga izzah di daerah ini.

terimakasih kepada para waqif yang berinfaq dalam program ini, semoga menjadi amal jariyah yang terus berkepanjangan, insyaallah.

Program ini masih memerlukan dukungan, Alquran didistribusikan melalui jaringan sukarelawan yang bergerak di berbagai bidang dan ormas dakwah, dan program ini tidak berafiliasi dengan politik, murni adalah gerakan kepedulian untuk membentuk generasi Islam ulil albab dan juga memberikan semangat untuk surau-surau dalam beraktifitas.

Infaq dapat disalurkan melalui link https://m.kitabisa.com/waqafquran atau menghubungi 081802637969 untuk informasi.



Beasiswa Santri Berprestasi Kemenag

Kabar gembira untuk teman-teman yang tahun ini lulus Pondok Pesantren MA (Madrasah Aliyah)

Kemenag akan memberikan bantuan PBSB tahun ini kepada 272 santri berprestasi terpilih. Mereka akan kuliah di13 perguruan tinggi mitra, yaitu
1) Institut Pertanian Bogor
2) Institut Teknogi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya
3) UIN Makassar
4) UIN Malang
5) UIN Surabaya
6) UIN Bandung
7) UIN Yogyakarta,
8) UIN Jakarta
9) UIN Semarang
10) Universitas Airlangga, Surabaya
11) Universitas Cendrawasih Jayapura
12) Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM), dan
13) Universitas Pendidikan Indonesia Bandung (UPI).

https://kemenag.go.id/berita/read/507011/program-beasiswa-santri-berprestasi-tahun-2018-segera-dibuka



DFA Juara Umum Pontren Cup 2018

Penyerahan Piala Umum Pontren Cup 2018 Kab. Limapuluh Kota.

Darulfunun El-Abbasiyah kembali dinobatkan sebagai juara umum Pontren Cup 2018 seperti tahun sebelumnya.

Pertandingan olahraga yang terdiri dari berbagai cabang olahraga ini menjadi agenda tahunan Kandepag Limapuluh Kota dengan tujuan memeriahkan aktivitas kegiatan pesantren dan juga membina olahraga dilingkungan pesantren.

Kegiatan yang diikuti oleh pesantren-pesantren se-Limapuluhkota ini juga menjadi ajang silaturahmi pesantren dan khususnya para siswa.



Kunjungan ke MTSM Lakitan Pesisir Selatan

Dalam rangka sosialisasi dan penerimaan santri baru Perguruan Darul Funun El-Abbasiyah melakukan kunjungan ke MTs Muhammadiyah Lakitan Pesisir Selatan.

Alhamdulillah kunjungan ini disambut gembira oleh majlis guru MTsM Lakitan, yang ada diantaranya adalah alumni dari Perguruan Darul Funun El-Abbasiyah.



Waqaf Al-Quran Situjuh Bandar Dalam

Penyerahan waqaf Al-Quran Darul Funun el-Abbasiyah ke Mushollah & Masjid pemukiman atas Gunung Sago, Situjuh Bandar Dalam, Kab. Limapuluhkota.

Dalam kesempatan ini juga dilakukan distribusi ke Surau Gadang dan Panti Asuhan Al-Falah Nahdatun Nisa’iyah Pdg Japang.



Kuliah Lapangan UIN Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru ke DFA

Pada hari kamis kemarin (26/10), mahasiswa-mahasiswi dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim II (UIN SUSKA) Pekanbaru, Riau melakukan kunjungan Kuliah Lapangan ke Perguruan Darul Funun el-Abbasiyah, sebagai salah satu perguruan tua yang mempunyai sejarah panjang dalam pendidikan dan pergerakan Islam di Sumatera.

Kunjungan ini didampingi oleh Ketua Yayasan Buya Afifi Fauzi Abbas, Kepala Perguruan (Kamad MA) Buya Adia Putra, dan Kamad MTs Ust Nasrullah. Dalam kunjungan ini dipaparkan sejarah Darul Funun el-Abbasiyah dan perananannya pra-kemerdekaan, perjuangan kemerdekaan, dan saat ini mengisi kemerdekaan dengan berperan aktif dalam pendidikan dan pengembangan masyarakat.

Darulfunun adalah aset waqaf umat yang dikelola oleh Yayasan Waqaf Darul Funun El-Abbasiyah, berlokasi di Jorong Padang Japang, Nagari VII Koto Talago, Kabupaten Limapuluhkota, Propinsi Sumatera Barat.

sumber: FB Ust Nasrullah



Beasiswa Tahfidz & Prestasi Semester Ganjil 2017/2018

Semester ini terdapat cukup banyak siswa tahfidz dan berprestasi, baik dari siswa baru kelas VII dan juga siswa yang mengalami peningkatan hafalan tahfidz dan berprestasi baik dalam kegiatan belajar mengajar juga mewakili perguruan dalam kompetisi tingkat daerah dan provinsi.

Alhamdulillah pada hari sabtu minggu lalu, dalam pembagian rapor bayangan, kita umumkan sekali nama-nama siswa yang dapat penghargaan atas kerja kerasnya, dan kami para pendidik dan pendukung diberi kesabaran dan kekuatan untuk membina.

 

Beasiswa diumumkan dan diberikan oleh Ketua Yayasan Buya Afifi Fauzi Abbas dan Kepala Madrasah Buya Adi Putra.

Jumlah
Beasiswa tahfidz (min 1 juz): 15 org
Beasiswa prestasi: 16 org

Tingkat MTs: 17 org
Tingkat MA: 14 org

 

Semoga Allah mudahkan para siswa dalam belajar mereka, dan semoga kita diberkahi oleh Allah.

Infaq & waqaf untuk mendukung program ini dapat disalurkan melalui link ini: https://kitabisa.com/tabunginfaq2017 atau dapat menghubungi perguruan dan yayasan.



Laporan Waqaf Pengadaan Kursi dan Meja untuk Tahun 2017/2018

Dimulainya tahun ajaran baru 2017/2018 ini, alhamdulillah ada pertambahan siswa/i yang melebihi kapasitas perguruan.

Sebanyak 60 meja dan kursi diperlukan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, alhamdulillah kami menerima infaq Waqaf dari para shalihin/shalihat untuk mendukung keperluan ini.

Waqaf yang disalurkan dalam pengadaan kursi dan meja ini berjumlah Rp. 18.5jt. Semoga Allah beri keberkahan dan kemudahan kepada para shalihin/shalihat, dan waqaf ini dijadikan shadaqah jariyah, insyaallah.

Untuk para shalihin dan shalihat yang ingin menyalurkan waqaf, infaq, shadaqah nya dapat melalui link berikut ini: https://kitabisa.com/tabunginfaq2017 , ataupun dapat juga menghubungi perguruan dan yayasan.



Membangun Masyarakat yang Berperadaban

Prof. Dr. Eka Srimulyani, MA., Guru Besar pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

ALQURAN memiliki beberapa penggambaran konsep masyarakat atau umat yang ideal, di antaranya adalah ummatan wahidah (umat yang satu). Ungkapan ini disebutkan beberapa kali dalam Alquran, salah satunya dalam surat Al-Baqarah: 213. Ummatan wahidah adalah umat yang menyatu dan bersatu dalam keimanan kepada Allah Swt, dan diberi petunjuk oleh-Nya. Dalam ayat lain (Al-Baqarah: 143), Alquran menyebutkan konsep ummatan wasathan (umat pertengahan), umat atau masyarakat yang moderat. Istilah lain yang juga digunakan dalam Alquran dalam menjelaskan konsep umat adalah khairu ummah (umat yang terbaik) yang dilahirkan untuk manusia (QS. Ali Imran: 110).

Pemahaman khairu ummah dalam ayat tersebut dikaitkan dengan upaya-upaya mereka yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, dan beriman kepada Allah Swt. Satu contoh penggambaran masyarakat [ideal] yang lebih spesifik tergambar ketika Alquran menjelaskan kondisi kaum Saba’ (QS. Saba’: 15). Dalam ayat ini kontekstualisasi dari masyarakat yang ideal adalah penggabungan antara kemakmuran dan spiritualitas keagamaan/keimanan dalam wujud baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, gambaran mengenai sebuah negeri yang aman sentosa dan masyarakat yang terampuni dosanya.

Di sisi lain, diskusi mengenai konsep umat atau masyarakat yang “ideal” sering merujuk kepada istilah yang dikenal sebagai madaniyyah (berperadaban) atau dalam masyarakat kita disebut dengan istilah “masyarakat madani”. Secara bahasa madaniyyah berasal dari kata Bahasa Arab madinah yang mempunyai dua pengertian, yang pertama berarti “[masyarakat] kota”, dan kedua dalam artian “[masyarakat] berperadaban” yang mengacu pada kehidupan masyakarat yang berkeadilan dan berperadaban.

Diskusi mengenai masyarakat berperadaban sering dikaitkan dengan ubarnisasi dan perkotaan, karena dalam sejarah peradaban-peradaban besar yang ada di dunia, selalu berbasis di kota-kota besar sebagai pusat kehidupan sosial politik masyarakatnya yang kemudian mempengaruhi wilayah-wilayah sekelilingnya, dan juga karakteristik dasar peradaban lebih cepat diamati dan ditemui dalam kehidupan masyarakat yang berbasis kota.

Masyarakat madani
Referensi mengenai konsep masyarakat madani dalam tataran praktis adalah masyarakat Muslim awal di kota Madinah setelah hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Mekkah, yang berlanjut sampai masa kepemimpinan para Khulafaur-rasyidin setelah beliau wafat. Masyarakat yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw saat itu bersendikan pada dimensi keimanan yang diarahkan untuk memperkuat kondisi masyarakat sipil dalam pilar-pilar musyawarah, keadilan dan persaudaraan.

Sejarah mencatat adanya sebuah kohesi sosial yang ideal, terbangun secara kuat dalam masyarakat Madinah saat itu, salah satunya terlihat lewat ukhuwwah (persaudaraan) yang mendalam dan bersahaja antara suku Quraisy Mekkah yang dikenal dengan istilah kaum Muhajirin dan penduduk Yatsrib (Madinah) yang dikenal sebagai kaum Anshar. Kota Madinah sendiri saat itu juga terdiri dari beragam suku seperti Suku Aus, Khazraj dan masyarakat Yahudi (Bani Nadhir, Bani Qainuqa’, Bani Quraizah), di samping Muhajirin yang hijrah dari Mekah.

Prinsip yang melandasi kohesi sosial tersebut dilandasi dari prinsip-prinsip yang tertuang dalam sebuah konstitusi yang cukup yang terkenal dalam sejarah yaitu “Piagam Madinah”. Piagam Madinah mencantumkan beberapa prinsip-prinsip penting dalam membangun masyarakat ideal yang menekankan pada persatuan dan kesatuan, persaudaraan (al-‘ukhuwwah), perdamaian, toleransi, keadilan (al-’adalah), sikap tidak diskriminatif, dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan dan keberagaman.

Prinsip-prinsip ini menjadi solusi dari kompleksitas kehidupan sosial politik masyarakat Madinah saat itu yang beragam baik dari sisi agama yang dianut, maupun kesukuan, yang sebenarnya memiliki potensi konflik di dalamnya. Kalau dikaji dan dianalisis, sebenarnya prinsip-prinsip yang ada dalam piagam Madinah tersebut sangat relevan diadopsi untuk kondisi masyarakat Muslim modern hari ini sekalipun.

Dari sisi wacana, konsep masyarakat madani terkadang sering disamakan dengan konsep civil society (masyarakat sipil), sebuah konsep masyarakat yang memiliki elemen-elemen kemasyarakatan yang kuat, dan/atau civilized society yang juga bermakna masyarakat berperadaban. Peradaban dalam konsep tamaddun seperti yang disebutkan oleh Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah.

Menurut Ibnu Khaldun, tamaddun merupakan pencapaian manusia yang sudah melebihi keperluan dasar manusia sehingga memberi kesempatan bagi mereka untuk berpikir dan menghasilkan daya cipta dan peradaban yang lebih tinggi dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan seni.

Masyarakat maju
Selain istilah tamaddun, Ibnu Khaldun juga memunculkan istilah umran yang merupakan kajian terhadap kawasan-kawasan bandar/perkotaan yang memiliki struktur tanah yang subur, infrastruktur yang memadai dalam suatu wilayah pembangunan yang baik ditempati secara permanen oleh sebuah masyarakat yang maju.

Di Indonesia, sejak 1990-an, diskusi tentang konsep masyarakat madani di Indonesia sudah mulai muncul secara intensif. Pada 1995 dalam sebuah diskusi di simposium Nasional dalam rangka Festival Istiqlal di Jakarta, Dato’ Anwar Ibrahim menyampaikan presentasi khusus tentang tawaran konsep masyarakat madani.

Para pakar lainnya juga tidak luput ikut berkontribusi dalam membentuk pemahaman mengenai konsep masyarakat madani tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, bahkan tidak hanya dalam bentuk diskusi dan wacana, istilah masyarakat madani kemudian juga diadopsi dalam tema pembangunan masyarakat kota/daerah di Indonesia.

Akhirul kalam, secara sederhana dapat dipahami, ada beberapa karakter yang melekat pada masyarakat Muslim madani (berperadaban) yang dimaksud, di antaranya adalah mengedepankan nilai-nilai keimanan kepada Allah Swt, mengembangkan prinsip keadilan dan kesetaraan, penguatan elemen masyarakat, toleransi, dan memiliki akhlaq mulia, serta penguasaan ilmu pengetahuan, termasuk seni yang digunakan bagi kemanfaatan umat/masyarakat.

Momentum Ramadhan yang penuh berkah ini sedianya merupakan saat yang tepat untuk mewujudkan dan memperkuat asas-asas masyarakat berperadaban tersebut dalam bingkai keimanan dan ketakwaan.

Wallahu a’lam bishawab.



Barat Akui Akurasi Peta Al-Idrisi

Bukunya tentang geografi sangat populer selama beberapa abad. Al-Idrisi sangat termasyhur di Barat sebagai ahli geografi yang membuat bola dunia perak bagi Raja Roger II dari Sisilia pada 1154 M. Pada bola dunia seberat 400 kilogram itu dengan cermat ia catatkan tujuh benua beserta jalur perdagangan, danau dan sungai, kota-kota besar, dataran, dan pegunungan.

Al-Idrisi lahir di Ceuta, Maroko, Afrika Utara, pada 1100 M. Saat bertemu Raja Roger untuk mendiskusikan pembuatan bola dunia, ia berusia akhir 30-an. Pembuatan bola dunia itu memakan waktu 15 tahun. Dia juga memberi informasi, termasuk jarak, panjang, dan tinggi yang sesuai. Bola dunia itu juga dilengkapi dengan bukunya Al-Kitab al-Rujari (Buku Roger). Dalam buku itu terdapat 71 bagian peta, sebuah peta dunia, dan 70 tambahan bagian peta.

Dia juga membuat representasi dunia pada sebuah piringan. Seperti pakar geografi Muslim lain sebelumnya, al-Idrisi mengunjungi banyak tempat yang jauh, termasuk Eropa. Tujuannya, untuk mengumpulkan data geografis. Para ahli geografi Muslim telah membuat pengukuran akurat permukaan bumi dan beberapa peta dari seluruh dunia.

Al-Idrisi menggabungkan pengetahuan yang tersedia dengan temuannya sendiri untuk menciptakan informasi yang komprehensif dari semua ba gian dunia. Seiring dengan kepopulerannya yang menyebar, dia mendapatkan perhatian dari para navigator laut Eropa dan perencana militer, tidak terkecuali Roger II, Raja Norman Sisilia.

Sang raja memintanya untuk membuat peta dunia teranyar. Figur dan karya al-Idrisi lebih dikenal di dunia Barat di bandingkan ahli geografi Muslim lain karena kapal dan navigator dari Laut Utara, Atlantik, dan Mediterania kerap singgah di Sisilia yang berada di bawah kekuasaan Muslim sebelum Raja Roger. Karya-karya pemikir Muslim tersedia secara bebas dan menyebar ke Eropa melalui Latin Barat. (Republika)